puncak welirang

Di kolam filsafat telah berenang terlalu jauh.


harus kembali ke tepian.


mengancingkan pakaian,


menuju lepas pantai,


dan meminta bantuan sahabat-sahabat


untuk membimbing,


menuju samudera luas tak berbatas itu…


untuk mencintai hidup


dan belajar mencintai sisi yang lainnya:


kematian.

Demokrasi adalah kaki langit.

Semakin didekati,

semakin menjauh.

Ia garis yang senantiasa memberitahukan perihal jauh dan tiada batas.

Ia abstrak,

sedang kekonkretannya tak ditemui

apabila kita mencoba mendekatinya dengan dambaan terhadap pancaindra.

Kaki langit adalah puisi,

sedang pancaindra adalah kenyataan dari dua belah kaki yang berpijak di atas bumi.


Demokrasi adalah kaki langit.

Visual ia tak tersimpulkan.

Garis lurus yang digoreskan juru gambar,

sama dengan kebun zaitun penuh nona manis yang dikira Boticelli sama dengan surga.

Demokrasi bukanlah berobyek manusia,

melainkan sekedar kumpulan titik-titik tinta di atas kanvas.

Apabila demokrasi tak lagi berobyek manusia,

maka ia menjadi hal yang hanya lagi menarik bagi seorang Immanuel Kant saja.

Sedang Kant toh sudah lama mati.


Demokrasi adalah kaki langit.

Ia garis yang senantiasa memberitahukan perihal jauh dan tiada batas.

Ia semakin jauh,

semakin tak terbatas.

Percayalah, kebahagiaan hanyalah sebesar hati


Beratnya penderitaan hanyalah sebesar hati


Kebahagiaan dan penderitaan dalam hidup ini ukurannya hanyalah dalam hati kita masing-masing. Punya kesempatan bahagia, tapi kalau dalam hati kita sedih, musnahlah kebahagiaan itu. Punya beban berat dalam hidup, tapi jika hati kita bahagia, ringanlah penderitaan itu dan berganti jadi senang dan bahagia.

Di naungan angkasa biru, sebuah balon gas besar hasil kreativitas departemen advertising sebuah perusahaan rokok menyemarakkan langit kota yang di zaman kolonial disebut Paris van Java. Balon itu mengingatkanku pada balon impian Hindenburg yang jauh terbang menuju angkasa namun akhirnya terbakar, menghancurkan popularitas Zeppelin sang penciptanya. Begitupun dengan diriku yang menciptakan balon impian. O’ betapa malangnya ia yang kubawa terbang tinggi menggunakan mimpi-mimpi kini selalu kupergoki termenung setelah masa pernikahan kami mulai beranjak menuju tahun yang kedua.

Uang tabungan kami semakin menipis, kini bahkan untuk membeli keperluan sehari-hari pun aku tak mampu membantunya. Pekerjaanku sepenuhnya bergantung pada harapan, menunggu-nunggu datangnya honor dari tulisan-tulisan yang sebulan sekali belum tentu dimuat oleh media masa nasional bahkan lokal. Mengharap-harap datangnya keajaiban ketika sebuah penerbitan mengirimkan draft kerjasama untuk meroketkan kumpulan novel dan essai yang akan membantu keuangan keluargaku.

Uh, tidak bisa seperti ini terus. Aku harus berusaha, setidaknya bekerja dengan keahlian kasar fikirku. Aku menscan poster lowongan perkerjaan yang menempel di kampus. Ada lowongan menjadi dentist, memegang kepala divisi informatika sebuah rumah sakit besar, menjadi surveyor geologi sebuah perusahaan perminyakan, atau calon peneliti di lembaga penelitian yang paling diminati di Indonesia. Uh, tak ada satu pun yang memerlukan sarjana humaniora terlebih bagi lulusan D3 yang bidang studinya relatif aneh.

Aku menepis nafas, berat dan ada kekecewaan yang mengendap. Aku mulai mengalami delusi yang mengatakan, menyalahkan, menyudutkan bahwa aku sebagai seorang kepala rumah tangga, adalah lelaki ringkih yang tak mungkin mampu menanggung beban keluarga. Kalsium keyakinanku mulai menipis, rapuh dan menunggu ambrukan rangkanya.

“Maafkan aku De,” aku tak tega memandang wajahnya.

Ia nampak berusaha mengalihkan, “Maafkan untuk apa?” sahutnya. Aku tahu ia berusaha menampar kekecewaannya.

Aku menghela nafas, “Uh, seandainya ada lowongan jadi pasukan kuning, mungkin aku akan melamarnya.”

Ia menatapku sayu, menadah daguku menggunakan sepuluh jari-jemarinya yang lembut, “Jangan terlalu difikirkan. Hidup ini kadang naik kadang turun. Aku yakin, nanti akan ada sebuah keajaiban.” Digamitnya tanganku, “Yuk!” katanya mengajakku meninggalkan poser-poster yang menjadi sandaran harapan itu.

Sebelum kami benar-benar melangkah, aku menarik tangannya. Ia menoleh.

“Ada apa?”

“Aku mohon, untuk yang kedua kali semenjak pernikahan kita. Seandainya suatu saat nanti kita benar-benar kekurangan, bahkan lebih dari kekurangan yang kita alami saat ini, jangan mengajukan tuntutan perceraian ya?”

De’ tertegun, dirinya menjadi patung kriya, hanya matanya yang berkata-kata, berkaca-kaca, membulir, lalu jatuh di atas conblock berwarna abu. Tak kuasa, aku melihatnya begitu, selalu tak tega, maka tak kulanjutkan perkataan itu. Ku ajak dia pergi. Sayup-sayup kudengar suaranya, yang kurasa, berubah menjadi basah, “Aku wanita yang setia dalam suka dan dukamu! Jangan pernah lagi Aa’ berkata seperti itu.”

Aku sungguh mempercayai kata-katanya. Aku mengangguk.

***

Ia datang begitu saja, seperti berkah dari langit. Dia datang saat aku menyelesaikan lembaran akhir Monte Christo, terlihat di antara sela-sela jemari kaki yang kutaruh di atas meja. Kulihat ia menggunakan baju longgar merah marun, baju yang cocok dengan rok dan kerudung besar hitam bertekstur yang dikenakannya. Menghisap air dari botol kaca bersoda, ia mengelilingi meja besar yang ada di toko bukuku. Menelisik satu persatu, membolak-balik buku-buku yang nampaknya menarik perhatiannya.

Aku melemparkan buku di meja tempat kakiku bersandar. Perhatiannya pada buku terusik. Ia menoleh. Sebuah ekspresi murni terproyeksi di wajahnya.

“Oalah,” serunya. “Mas kan!? Benar kan?”

Aku pura-pura tak pernah mengenalnya, “Lho mas yang mana? Benar yang seperti apa?” tapi dia tahu kalau aku mencandainya, lalu kami tertawa.

Sebenarnya perkenalanku dengannya, jauh-jauh hari sebelum dia datang ke toko ini. Sewaktu menyeberangi zebra cross alun-alun kota, aku melihatnya dikemas kaca, duduk di bangku mobil yang entah mereknya apa. Waktu itu, ia kulihat membuka mulutnya lebar-lebar. Matanya sedikit terpejam. Ia menguap cukup panjang. Radiasinya menyeruak dan tanpa sadar aku pun ikut menguap.

Di balik kemudi, seorang bapak disampingya tertawa kemudian menepuk bahunya dan menunjukku menggunakan gerak kepalanya. Sewaktu melihatku menguap wanita ini tertawa. Kami sama-sama tertawa. Dan sore itu menjadi salah satu sore terindah dalam hidupku.

“Senang bertemu kau kembali. Sudah berapa lama di kota ini?”

Keningnya berkernyit, “Lho, bisa tahu kalau aku bukan orang sini?”

“Ya tahu, plat nomor mobilmu R. Purwokerto?”

“Ya,” Ia tersenyum.

Aku mengulurkan tangan. “Oh ya, namaku Herdi. Nama mu?”

“Sama!”

“Oh Sama!”

Setelah perkenalan itu kami mulai membuka-buka satu topik. Ia bertanya tentang buku yang kubaca. Aku menceritakan hikmah yang dikandung bukunya, bertutur panjang lebar tentang Alexandre Dumas. Lalu obrolan berkembang menjadi berpanjang-panjang: menyinggung musik, membahas dan memberi saran film apa yang ‘haram’ jika tidak diapresiasi, juga berbincang tentang impiannya menjadi penulis ternama.

Di dalam toko dengan dia sebagai pengunjungnya, dua jam setengah dipress menjadi pertemuan singkat yang tak terasa lama. Meski masih ingin berbincang denganku ia mengharuskan untuk unjuk diri.

“Mas Herdi, terima kasih pembicaraan penuh maknanya!”

“Terimakasih tak terkira juga. Kalau ke kota ini lagi jangan lupa singgah!”

Ia tersenyum, “Aku takkan kembali ke Purwokerto. Kami sekeluarga baru saja pindah. Mungkin kedepannya, seminggu tiga kali aku akan ke sini, bertukar fikiran karena aku adalah manusia sesat yang butuh bimbingan seorang sahabat.”

“Kalau begitu kutunggu kedatanganmu!”

Ia kemudian melipat kertas pembungkus buku yang baru dibelinya. Sebelum ia benar-benar menghilang ditelan arus kendaraan, aku memanggilnya, “Hei Sama!”

Ia berbalik, kemudian menunjuk dadanya dengan telunjuk, “Namaku bukan Sama!”

“Tadi kau bilang namamu Sama?”

“Maksudnya sama, namaku sama dengan namamu. Namaku Herdi, ditambah embel-embel Anita. Heer..dii..aa..nii..ta!” ia mengeja. “Panggil saja aku, Dian” imbuhnya.

Aku menepuk jidatku. Kami tertawa lagi.

Tertawa memang sebuah awalan yang baik dalam sebuah perkenalan. Tertawa akan menjadi prasasti terkuat sebuah perkenalan, lebih dari itu ternyata waktu merekatkan tawa kami dalam hubungan yang lebih dari sekedar persahabatan.

***

Dalam bincang-bincang tiga kali seminggu yang dijanjikannya, hubungan kami tak terasa semakin dekat dan semakin dekat, hingga akhirnya kami merasa sulit dipisahkan satu sama lainnya. Sama-sama merindu, sepakat untuk mengangeni dan tersiksa apabila tak bersua. Roman-roman mulai terbentuk dan mimpi-mimpi Dian berkembang untuk terbang. Kemudian pada satu waktu, menjelang tokoku tutup, kukatakan padanya, “Aku ingin bertanggung jawab! Aku ingin menjadikanmu hanya satu-satunya tamu dalam hidupku! Aku mencintaimu dan ingin membahagiakanmu! Menikahlah denganku, hanya denganku, sebab kau tak mungkin, mutlak tak akan mungkin bisa hidup berlimpah kebahagian jika menafikkan untuk hidup bersamaku!”

Tak perlu kujelaskan bagaimana cara dia menjawab lamaranku yang aneh itu. Yang pasti, sebulan kemudian tanpa persiapan kami lantas menikah, dan hengkang menuju sebuah kota di ujung timur Pulau Jawa. Kami membuka sebuah toko buku di kota Malang. Menjalani kehidupan pernikahan dengan aku sebagai seorang lelaki, yang terus menerus menjadi mentor Dian dalam menemukan makna kebahagiaan. Dan indikasi keberhasilan itu semakin dekat ketika, satu saat di sebuah angkutan kota aku mengetengahkan sebuah percakapan, “De’ seandainya kita memiliki ribuan keping uang emas, kemudian kita pergi menggembol kepingan-kepingannya ke dalam hutan, sementara kita tidak membawa makanan. Lantas, apa kita bakal memakannya seandainya kita lapar?.”

“Mana mungkin? Kita tak mungkin memakannya!”

Kemudian aku bertanya pada Dian, “Lalu kebahagiaan itu apa? Jangan-jangan kebahagiaan itu, punya banyak makanan. Ternyata tidak juga kan? Banyak orang yang memiliki makanan, tapi hidupnya resah, gelisah. Jiwanya seperti berada di balik jeruji. Hidupnya seperti terpenjara. Sebenarnya, aku sendiri bingung untuk mendefinisikan kebahagiaan itu apa. Tapi, aku pernah membaca lirik-liriknya penyair Persia bernama Sa’adi. Dia berkata: Aku menangis karena aku tak memiliki sepatu dan aku berhenti menangis saat aku melihat orang yang tak memiliki kaki.”

“Kebahagiaan itu ada manakala kita menggunakan kaus kaki dan memiliki sepatu atau manakala kita memiliki kaki!” ia menjawabnya tetapi kemudian, langsung membantahnya, “Rasanya tidak. Banyak orang yang punya kaki tapi tidak bahagia.” Ia kemudian tertawa.

“Apa yang De’ tertawakan?”

“Dulu, aku sering sekali naik mobil pribadi meski mobil pribadi itu milik Bapakku. Sekarang waktu Aa’ mengajakku mengembara, kita tidak memiliki kendaraan pribadi. Motor tidak, sepeda tidak, bahkan kuda pun tidak,” humornya. Ia kemudian melanjutkan.

“Sekarang seringnya malah jalan kaki dari kontrakan menuju toko buku tempat A’ kerja. Dan satu waktu aku pernah merasa capai, tak kuat untuk jalan jauh lagi. Akhirnya, waktu toko tutup, kita menyetop angkot. Dan di dalam kendaraan yang mirip box itu aku merasa gembira. Ah, nggak jalan kaki itu enak juga rupanya. Bahagia rasanya.” Ia tertawa, setelah tawanya sirna, di dalam angkutan kota itu Dian menyimpulkan kebahagiaan dalam versinya. Setelahnya, angkutan kota menjadi sunyi dan aku bahagia karena merasa berhasil membimbingnya.

***

Tapi, kebahagiaan di dalam hatiku perlahan pudar. Usaha toko bukuku gagal. Kesalahan analisis minat baca di kota ini membuat usahaku terpuruk. Kota tempat kami tinggal memang bukan kota dengan budaya wacana filsafat yang kental seperti Yogyakarta. Kota tempat kami tinggal lebih kental dengan budaya baca yang terkait dengan wacana pop. Itulah sebabnya, setelah dirata-rata selama tujuh bulan, penghasilan kotor tokoku hanya berada dalam kisaran ratusan ribu per bulan. Itupun belum dikurangi uang yang harus kusetorkan pada penerbit setiap bulannya. Penghasilan seminim itu tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan kami, sementara penghasilan Dian sebagai guru tidak tetap (GTT) tidak begitu bisa diharapkan.

Ada keinginan untuk mengganti dan sedikit kompromi dengan segmen toko bukuku ini, tapi rasanya aku kesulitan. Penerbit buku-buku popular hampir semuanya tidak berkenan melakukan kerjasama dengan sistem konsinyasi. Sistem beli putus dan kredit membuatku kehilangan nyali. Oke sebaiknya aku hentikan saja usaha ini, banting setir! Tapi kearah mana setir ini akan kubanting? Aku kebingungan.

Uh aku stress dengan permasalahan ini. Semakin jauh dari pernikahan kami, kebahagiaan seolah-olah menjadi pudar. Mengapa? O’ Aku tak ingin membuat Dian menyesal telah memilihku. Aku tak ingin memergokinya termangu. Tapi apa yang bisa kulakukan? Kegelisahan membuatku hilang kebahagiaan, lalu kemana konsep kebahagiaan yang selama ini berusaha kuajarkan berbuih-buih padanya?

***

Langit masih biru, sementara hatiku disepuhi kelabu. Kami kembali berjalan, melangkah, menapaki trotoar jalanan, melewati jajar pepohonan di pinggir jalan. Tukang tahu petis, buah seribu tiga, pedagang rokok asongan. Uh, berjayalah kalian yang telah berusaha. Berjayalah kalian yang tak mengenal kata malu, menundukkan ego dalam menyambung hidup! Melihat mereka kekagumanku muncul meski bisa jadi mereka melakukannya hanya karena tidak mempunyai pilihan. Satu saat, waktu bisa membuatku seperti mereka. Dan aku nampaknya harus menyiapkan diri.

Kami meniti tangga, memegangi stainless steel, memasuki sebuah bangunan yang menyediakan mimpi. Swalayan yang selalu membuatku gelisah jika berada di dalamnya. Bangunan yang selalu membuatku berfikir, berhitung, berapa sisa uang tabungan kami.

Kami diantarkan escalator menuju lantai kedua. Aku masuk dan meringkuk di dalam diriku. Dalam pada itu, Dian tak mengatakan apa-apa. Perkataanku tadi nampaknya masih berbekas di hatinya. Beberapa saat kemudian, bunyi yang khas, tiba-tiba mengejutkannya. Telepon selularku berbunyi. Kutekan tombol pembicaraan. Di seberang sana seorang wanita menanyakan Dian. Kutanya dari siapa? Dia menjelaskannya dan aku terkejut. Manakala handphone kuberikan padanya aku mulai berdoa. Wajah Dian kelihatan tegang. Aku terus berdoa. Semakin doaku panjang semakin wajahnya berubah: menjadi merah, menjadi semakin ekspresif. Matanya membesar, dan mulai berkaca-kaca. Hampir-hampir kaca-kacanya pecah. Aku mendengar ia mengatakan: oh iya, kalau boleh tahu yang keberapa Mbak? tanggal berapa penyerahannya? nanti nomernya akan kami kirimkan. Telepon ditutup. Dian memandang diriku. Nampaknya ia diselimuti kebahagiaan yang akan ia tularkan.

“A’ kita diundang ke Jogja!”

“Untuk apa?”

“Novelku menang. Juara dua!” Ia kemudian memelukku. Aku pun memeluknya di tengah keramaian, mengangkat tubuh mungilnya, memutarkannya beberapa kali. Orang-orang melihat kami keheranan. Mereka tahu kalau kami bahagia. Kami langsung keluar dari swalayan, menuju ATM terdekat. O betapa bahagianya. untuk sementara kami bisa berbelanja barang kebutuhan yang diinginkan.

Langit masih membiru, balon gas yang mengiklankan rokok merek terbaru masih menggantung di atas sana. Aku melihatnya dan Dian balas melihatku, “A?”

“Ya?”

“Allah memang maha Aneh ya?” Ia melihat angkasa.

Aku tersenyum, “Mungkin Ia mengintip di batas atmosfer sana.” Aku menunjuk angkasa, berteriak pada-Nya “Hei, sebaiknya asmaul husna Kau tambah jadi seratus saja!” beberapa detik aku terdiam, kemudian takzim kuucapkan, “Terima kasih ya Tuhan!” Dian mengangguk menyetujui apa yang kuungkapkan. Ia kemudian merangkul tanganku. Kami keluar dari swalayan, dan akan kembali berbelanja beberapa menit kemudian.

Ah aku mendapat pelajaran berharga. Nampaknya kali ini akulah yang tidak benar-benar memahami arti kebahagiaan. Nampaknya, sore ini ego masa laluku sebagai seorang lelaki yang ingin membimbing untuk menyelami makna kebahagiaan, ingin menjadi tonggak selamanya, ingin meluruskan seolah-olah Dian adalah tulang bengkok yang harus diluruskan, nampaknya sirna.. Berharganya O Dia. Betapa berharganya O Herdianita.

Kami memang ditakdirkan untuk menjalani hidup bersama, bergandengan tangan. Aku, sang lelaki hadir bukan untuk membimbingnya. Aku sang lelaki harus sama-sama belajar untuk saling mengisi, saling membimbing ketika salah seorang di antara kami bimbang. Secara formal laki-lakilah yang memimpin kehidupan keluarga, namun saat berjalan maka tidak ada lelaki yang memimpin dan wanita yang dipimpin, jika kepemimpinan itu dilakukan untuk memperbudak salah satu pihak. Yang ada hanya manusia yang sama! Manusia yang terus menerus belajar untuk menyempurnakan dirinya, menggapai impian-impian yang ternyata ada di dalam hati dan dadanya. Menggapai kedamaian jiwa.

Sore hari ini kebahagiaan kembali datang saat aku mengingat kesungguhan ucapan yang diperdengarkannya di dalam sebuah angkutan kota,

“Aku tau kebahagiaan itu apa!.”

“Ya apa?”

“Kebahagiaan itu bukan sesuatu yang dapat didefinisikan. Kebahagiaan itu ada di kedalaman hati!?”

Aku tunjuk dadanya. “Berdomisili di sana?”

Dan dengan mantap Dian mengatakan, “Ya!”

tatum valet auctoritas quantum valet argumentation,


nilai wibawa hanya setinggi nilai argumentasinya.


silahkan sekolah yang tinggi-tinggi!


Silahkan!


Tetapi jika sekolah yang tinggi itu

tidak membawa karya untuk manusia,

maka sejarah dan masyarakat

akan lupakan dan tinggalkan kita semua!

Di suatu tempat terpencil (berabad-abad lamanya sebelum Eropa memasuki zaman pencerahan) terdapat sebuah pulau terpencil ditengah-tengah bermuda. Pulau itu luasnya sebesar pulau Natuna. Daratannya dikelilingi gunung gemunung yang tegak menjulang, menonjok partikel air yang dikumpulkan matahari menjadi awan.

Di tengah-tengah lingkar pegunungan tersebut, hidup seorang wanita bertubuh mungil bernama Dian. Ia tinggal ditengah kaum dinamisme yang mempercayai bahwa dibalik sebuah totem terdapat kekuatan besar yang mampu mengendalikan alam semesta. Dian tinggal di tengah kaum yang mempercayai bahwa di balik benda-benda keramat tersembunyi kekuatan besar penghalau taufan yang dapat menyergap, serta menenggelamkan dan menghancurkan tanah pertanian.

Dalam pada itu, Dian yang jari tangannya sempat retak akibat sebuah kecelakaan, selalu memperhatikan ritual penyembahan totem dari kejauhan. Dalam pada itu, Dian yang agak tembem pipinya mirip bakpau, selalu berfikir, akankah ia menyembah totem yang disembah kaumnya?. Akankah ia mengikuti nenek moyang, orang tua dan klan-nya saat melakukan penyembahan patung yang usianya ratusan tahun?. Tidak semudah itu!. Dian adalah perempuan yang kritis. Sebelum ia mengikuti penyembahan, ia menyaksikan bagaimana patung yang mereka sembah ternyata tidak dapat mengusir lalat yang menempel di hidungnya. Lalu pemikirannya berkata “Tuhan tak mungkin selemah itu. Itu bukan Tuhan!”. Dikemudian hari ia berniat menyembah benda-benda yang ada dilangit tapi akalnya berkontraksi “Hm…manakala malam datang, matahari digantikan bulan. Manakala siang datang, bulan digantikan matahari dan pemikiran Dian berapologi : “Bagaimana mungkin, Tuhan terbit tenggelam seperti itu!?”.

Dian melihat deru awan yang dihinggapi alap-alap. Arakan awan di angkasa seperti kapas emas seusai disepuh cahaya mentari. Ia mentakjubi keagungannya. Lantas ia berniat menyembah awan. Tapi angin datang bergelombang hingga awan terlepas dari tambatannya kemudian…menghilang!. Angin begitu berkuasa untuk menyapukan awan.

Angin yang semula menderas perlahan-lahan mengalun. Angkasa menjadi tenang. Sunyi tetirah. Setelah itu, kejadian-kejadian yang dialami selama beberapa waktu terangkum dalam ingatan Dian. Dialog kembali berlangsung dalam dirinya : “Mana mungkin Tuhan seperti itu?. Mana mungkin Tuhan tak berkuasa atas dirinya sendiri (tak mampu mengusir lalat)?. Mana mungkin sifat kekuasaan Tuhan temporal atau hanya bersifat sementara (seperti halnya bulan, bintang matahari api angin, dan lain sebagainya)?.

Dalam ruang kegelisahan yang menjemukan, di kejauhan ia melihat tiga orang berpakaian putih serta berjanggut lebat mendatangi pulau. Dibantu angin yang dijaring layar, mereka mendarat dan menambatkan tali perahunya pada karang –tempat Dian mengumpulkan tiram–. Tujuh lapis harapan menuntunnya untuk menuntaskan kegelisahan dalam jiwa. Ia berlari menuju arah mentari yang merefleksikan ketiga orang tadi menjadi siluet. Gerai rambut Dian menyuarakan sukacita. Matanya mengkedip dan menjatuhkan bingkis bening keharuan. Ia turun dari bukit untuk menyambut mereka.

Sesampainya di tepian pantai, Dian disuguhi tatapan lembut oleh ketiga orang itu. Mereka seolah sudah mengetahui sejak lama isi hatinya. Dian lantas membawa mereka menuju ke kediamannya. Malam tiba. Suara debur ombak tak begitu kentara dalam pendengaran Dian, ketika ketiga orang itu mulai memperkenalkan dirinya lamat-lamat.

Mereka berasal dari arah Baitul Maqdis. Sebuah tempat suci tiga agama dunia yang diberitakan. Dian tidak begitu menahu mengenai hal yang membuat ketiga orang tersebut diselimuti energi kedamaian saat membicarakan tempat suci itu. Yang ia tahu, ketiga orang itu mulai memberikan pengabaran mengenai Kristus ketika pertengahan malam mulai menelingkupi pulau.
Mereka bilang bahwa Tuhan itu tiga dalam satu dan satu dalam tiga. Mereka menganalogikannya dengan segitiga. “Segitiga sama sisi memiliki tiga sisi yang sama. Walaupun ada tiga sisi tetap saja segitiga. Tuhan itu ada tiga tetapi satu”. Tetapi Dian berfikir : “Bagaimana ini?. Ia bingung setengah mati. “Bagaimana kalau ada orang yang mengatakan bahwa bujur sangkar ada empat sisi dan Tuhan ada empat tetapi satu?”.

Dian terus berfikir “hmm seandainya Tuhan tiga tetapi satu… pening sekali pemahaman itu!. Kalau Tuhan ada tiga, Tuhan pasti sering berkelahi. Kalau Tuhan ada Tiga dalam satu berarti Tuhan memiliki kepribadian ganda : satu kepribadian sebagai ibu, satu kepribadian sebagai anak dan sebagai bapa. Ah, masyarakatpun tak mungkin akur jika memiliki tiga pemimpin yang tiga dalam satu tubuh, yang satu tubuh dalam tiga. Apa lagi alam semesta kalau punya tiga Tuhan?”. Kemudian Dian berfikir lagi : kalau ada Tuhan bapa, ibu dan anak, lantas siapa kakeknya?”. Ting!!! Dian berfikir bahwa Tuhan tidak mungkin beranak dan diperanakan.

Tapi ketiga orang itu terus mendesaknya, salah satu diantara mereka bertutur “Tuhan kami amatlah baik. Ia berkorban untuk umat manusia. Melalui penyaliban, ia menebus dosa umat manusia semenjak Adam hingga akhir dunia. Seandainya engkau mau mengimani Tuhan kami dalam hati, maka kau akan diselamatkan!”

Akal Dian berkerja kembali “Menurut bapak, seluruh manusia ditebus dosanya oleh Tuhan tapi mengapa orang yang tidak mengimaninya tidak diselamatkan?. Mengapa Ia menebus dosa manusia melalui penyaliban?. Apakah tidak ada cara lain bagi Tuhan untuk menebus dosa manusia selain dengan penyaliban, yang tentunya merendahkan dirinya sendiri?. Bapak tercinta, seandainya hanya karena Adam semua manusia berdosa, maka tak tahu menahukah Tuhan mengenai kaidah kausalitas (sebab akibat) yang ia ajarkan pada manusia?, mengenai siapa yang mengerjakan dosa maka dialah yang seharusnya menanggungnya. Bapak, haruskah hal itu masuk ke dalam logika saya?. Bapak, seandainya saya memiliki ayah seorang perompak, apakah kemudian saya dan anak cucu saya nantinya dicap sebagai perompak pula?. Dicap memiliki dosa?. Padahal, saya dan anak cucu saya tidak pernah melakukan perompakan sama sekali?.

Seperti tahu isi hati Dian, wakil ketiga orang itu kembali bertutur :

“Keimanan tidak bisa dilogikakan. Keimanan adalah kepercayaan mutlak pada sesuatu yang akan menjadi pembimbing kehidupan manusia di dunia. Keimanan adalah keyakinan. Keimanan bukan untuk dipertanyakan. Tiga dalam satu adalah keimanan. Satu dalam tiga adalah keimanan. Tinggal anakku Dian mengimaninya. Pilihannya ya dan tidak. Diselamatkan atau dijerumuskan”.

Mulut Dian tidak merekah sempurna. Dalam lirih ia bersuara “Bapak, seandainya keimanan bukan untuk dipertanyakan, seandainya keimanan adalah kepercayaan mutlak yang tak bisa diganggu gugat, bagaimana seandainya jika ada orang yang menganggap Dian Tuhan?. Bapak, seandainya orang menganggap Dian sebagai Tuhan, tentu Bapak yang baik hati, Bapak yang jauh-jauh dari Timur untuk mengabarkan penyelamatan, tidak berhak untuk mempertanyakan keimanan orang itu. Sebab, itu keimanan baginya. Tapi … bagi Dian keimanan bukan sesuatu yang tabu untuk digugat. Keimanan perlu digugat. Perlu dipertanyakan sebab ada begitu banyak konsep keimanan di dunia ini. Mana yang benar?. Dian fikir, banyaknya konsep keimanan harus saling dibandingkan. Dan, perangkat akal lah, yang akan membenarkan mana satu-satunya keimanan yang benar”

“Kalau begitu kamu menafikan perasaan suci yang mengarahkanmu pada kebenaran?”

“Saya tidak menafikan perasaan, Bapak. Perasaan hanya pelengkap. Perasaan hanyalah bumbu kebulatan iman. Dian hanya berusaha menempatkan perasaan dan akal pada tempatnya saja. Seandainya perasaan dijadikan alat untuk mencari kebenaran maka sejak jauh-jauh hari Dian menyembah batu dan benda-benda dilangit karena hati Dian terharu akan keagungan keajaibannya. Seandainya perasaan dijadikan alat mencari kebenaran maka saudara-saudara dan kawan-kawan Dian, tak berhak Bapak pengaruhi keyakinannya. Sebab, mereka telah merasakan indahnya keimanan. Sebab, hati mereka bergelora ketika menatap benda-benda langit dan bumi yang mereka anggap memiliki keajaiban. Duh Bapak yang baik, saya tidak mungkin menafikan perasaan dan hati, sebab saya memang memilikinya sebagai fitrah. Tetapi, perasaan hanyalah sebagai pelengkap setelah akal mengawali pencarian keimanan. Akal lah yang seharusnya mengawali atau mendampingi perasaan dalam mencari kebenaran iman. Dengan hal itu, Dian dapat memilah-milah, membenturkan serta menggugat keimanan yang satu dengan yang lainnya. Dari benturan-benturan keimanan itu, Dian yakin bahwa satu-satunya keimanan yang kuat akan Dian dapatkan”

“Keimanan yang seperti apa kalau begitu?”

“Saya tidak tahu. Yang pasti bukan keimanan yang Bapak tawarkan pada Dian. Maafkan Dian Bapak!”

Di negri permai ini

Berjuta rakyat bersimbah luka

Anak kurus tak sekolah

Pemuda desa tak kerja

Mereka dirampas haknya

Tergusur dan lapar

Bunda relakan darah juang kami

Tuk membebaskan rakyat

Mereka dirampas haknya

Tergusur dan lapar

Bunda relakan darah juang kami

Padamu kami berbakti

Padamu kami mengabdi

Sembari ongkang-ongkang kaki,

orang banyak menunggu datangnya Imam Mahdi

untuk menyelesaikan carut marut kehidupan di dunia.


Mereka berharap datangnya seorang lelaki

yang mengatakan dirinya

sebagai Imam Mahdi

di dekat Baitullah..


Bagaimana seandainya

Zionis Israel mempelajari apa yang kita ucapkan,

kemudian mereka memilih seorang lelaki

untuk mengaku sebagai Imam Mahdi.


Ketika pengakuan akan ke-Mahdian-nya tiba,

maka satelit yang ada di langit

memancarkan cahaya dengan koordinat yang tepat,

menyinari Imam Mahdi palsu yang telah ditunjuk.

Dan sempurnalah penipuan ini..


Menggunakan Imam Mahdi palsu,

semakin melanggenglah kontrol oleh kekuatan Zionis Israel

atas milyaran kaum Muslimin di dunia..


Lucunya,

Ketika Imam Mahdi yang sesungguhnya muncul,

umat Islam yang suka ongkang-ongkang kaki

malah mentertawakannya

sambil terkencing-kencing..


Sebaiknya kita jangan menunggu Imam Mahdi,

kita lah yang seharusnya

menyeret surga

ke muka bumi..

Tik

Tak

Tik

Tak

Tik

Tak

PRAK!!!!!

Jam pecah terpalu

waktu masih terus berlalu

Ah!

Satu huruf setelah aku mengenal kamu

O

 

Anas bin Malik menuturkan, Rasulullah saw bersabda: “Akan tiba suatu masa pada manusia, di mana orang yang bersabar di antara mereka dalam memegang agamanya, ibarat orang yang menggenggam bara api” *


Aku sedang jatuh cinta.

Rasanya sakit sekali.

Tapi aku ingin merasakan sakit selamanya.” **


Mereka, para pejuang kebenaran adalah orang-orang paling romantis. Betapa tidak?! Hidupnya dikelambui cinta, cinta akan kebenaran. Tak ada yang sanggup menandingi kesediaan mereka dalam berkorban demi cintanya akan kebenaran. Mereka sanggup menahan perih dalam mencinta. Dari telapak tangan mereka mengepul asap dan tercium bau hangus daging terbakar karena menggenggam bara kebenaran. Di dada mereka, mendidih magma cinta yang mengguncangkan sekelilingnya. Hatinya dibakar api rindu, rindu akan berkibarnya kebenaran bagi semesta alam.


Dirasuki cinta akan kebenaran. Sakit. Tapi ingin merasakan sakit selamnya.


penggenggambara. Semoga dapat menjadi tanda cinta. Amin.


* HR at-Tirmidzi

** Lover Concerto